Sistem Subduksi Modern Jawa dan Sumatera

Posted on Disember 16, 2008. Filed under: geofisika | Label:, , , , , |


Pada 50 juta tahun yang lalu (Awal Eosen), setelah benua kecil India bertubrukan dengan Himalaya, ujung tenggara benua Eurasia tersesarkan lebih jauh ke arah tenggara dan membentuk kawasan Indonesia bagian barat. Saat itu kawasan Indonesia bagian timur masih berupa laut (laut Filipina dan Samudra Pasifik). Lajur penunjaman yang bergiat sejak akhir Mesozoikum di sebelah barat Sumatera, menyambung ke selatan Jawa dan melingkar ke tenggara – timur Kalimantan – Sulawesi Barat, mulai melemah pada Paleosen dan berhenti pada kala Eosen.

Pada 45 juta tahun lalu. Lengan Utara Sulawesi terbentuk bersamaan dengan jalur Ofiolit Jamboles. Sedangkan jalur Ofiolit Sulawesi Timur masih berada di belahan selatan bumi.

Pada 20 jutatahun lalu benua-benua mikro bertubrukan dengan jalur Ofiloit Sulawesi Timur, dan Laut Maluku terbentuk sebagai bagian dari Laut pilipina. Laut Cina Selatan mulai membuka dan jalur tunjaman di utara Serawak – Sabah mulai aktif.

Pada 10 juta tahun lalu, benua mikro Tukang Besi – Buton bertubrukan dengan jalur Ofiolit di Sulawesi Tenggara, tunjaman ganda terjadi di kawasan Laut Maluku, dan Laut Serawak terbentuk di Utara Kalimantan

Pada 5 juta tahun lalu, benua mikro Banggai-Sula bertubrukan dengan jalur ofiolit Sulawesi Timur, dan mulai aktif tunjangan miring di utara Irian Jaya-Papua Nugini.

Saat ini lantai Samudera Hindia subbduksi dibawah Jawa dan Sumatera dengan kecepatan rata-rata 6 cm/tahun (Le Pichon, 1968). Sistem subduksi membentuk –trench, outer-arc ridge, outer-arc basin, volcanic arc dan foreland basin (gambar 1).

Gambar 1

Seismic zone pada kedalaman 100 km memiliki dip 65o berarah ke utara dibawah Jawa dan Laut Jawa dan terus menurun hingga kedalaman 650 km (pl. 1; Fitch 1970a, 1972; Hamilton, 1974b; Santo, 1969). Di Sumatera zona ini hanya mencapai kedalaman 200 km, dimana dip dibawah 100 km sekitar 30o-40o.

Kedalaman palung sekitar 4500 m pada sumatera utara tetapi mencapai 6000-7000 m di Jawa. Dan palung ini menerus hingga Burma-Andaman-Nicobar. Perubahan kedalaman palung berkaitan dengan ketebalan sediment pada lantai samudera dan palung.

1. Sumatera

Fisiografi Pulau Sumatera berarah baratlaut-tenggara, pulau ini bagian sundaland barat dan sisi selatan dari extension lempeng kontinen Eurasia. Bukit barisan merupakan tulang punggung pulau ini. Region ini membagi sumatera pantai barat dan pantai timur. Sisi barat sebagian besar terdiri dari rangaian pegunungan dengan slope yang curam. Sedang sisi timur memiki wilayah yang luas terdiri dari bukit-bukit formasi tersier dan dataran rendah alluvium.

Pulau sumatera diinterpretasikan terbentuk dari collision dan rangkaiaan pecahan mikrokontinen pada akhir Pre-Tersier (Pulonggono dan Cameron 1984, Barber 1985). Saat ini, lempeng samudera hindia subduksi dibawah lempeng kontinen Eurasia N20oE dengan laju 6-7 cm/tahun. Zona konvergensi oblique ini ditandai dengan aktifnya system palung busur sunda (memanjang dari Burma di utara hingga selatan dimana lempeng Australia subduksi dengan Indonesia Timur selatan (Hamilton 1979)).

Secara umum region ini terbagi menjadi 6 region (gambar 2) :

1. Sunda outer-arc ridge, terletak sepanjang active margin sunda fore-arc basin

2. Sunda fore-arc basin, terletak antara akresi non-vulkanik outer-arc ridge dan vulkanik

3. Sumatera back-arc basin terdiri dari basin sumatera utara, tengah dan selatan

4. Barisan mountain berkedudukan sebagai sumbu pulau dan sebagian besar tersusun batuan permo-carboniferous hingga Mesozoic.

5. Sumatera intra arc, dipisahkan oleh subsequent uplift dan erosi membentuk area pengendapan.

Gambar

1.1 Sunda outer arc ridge

Rangkaian kepulauan dan pengangkatan dasar laut (100-150 km barat Sumatera) membentuk struktur yang dikontrol oleh topografi ridge (karig et al, 1979) yang memanjang dari Laut Andaman hingga Jawa tenggara. Contoh area ini adalah Nias dan Simeulue.

1.2 Sunda Fore-arc basin

Secara umum terbagi menjadi Sibolga basin (barat laut sumatera) dan bengkulu basin barat daya sumatera.

1.3 Sumatera back-arc basin

Terdiri dari North Sumatera basin, Central sumatera basin dan south sumatera basin. Struktur di sumatera tengah berkaitan dengan first order NW-SE sesar sumatera (rightl lateral). Sebagai respon dari subduksi oblique.

1.4 Barisan mountain

Terdiri dari Aceh area, Toba area, central Sumatera, semangko zone.

2. Rotasi Sumatera

India bertumbukan dengan Asia (pergerakan ke utara) selama kenozoikum, sehingga menghasilkan gaya seret (drag dorce) yang sangat besar sepanjang sisi subkontinen. Efek pergerakan ini adalah meliputi Pakistan dibagian barat dan assam di timur (asia tenggara dan Indonesia bagian barat), berputar berlawanan jarum jam menghadap samudera hindia.

3. Uplift Bukit Barisan

Pembentukan bukit ini dimungkinkan crust mengalami pemanasan secara besar oleh banyak intrusi sebelum silisic magma dapat mencapai permukaan dengan volume besar. Atau geantiklin ini produk kompresi crust, yang terlokalisasi oleh pemanasan magma.

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–><!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

About these ads

Make a Comment

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: