Ada apa dengan Nikah ?

Posted on Disember 23, 2008. Filed under: akhlak | Tags: , , |

Nikah ; Antara Kebutuhan dan Fenomena

   Dalam penciptaan manusia, secara faktual dan terindera, Allah memberikan kepada manusia berupa potensi kehidupan (taqatul hayyawiyah) yang senantiasa/cenderung mendorong manusia melakukan aktivitas untuk memenuhi potensi kehidupan tadi. Potensi tersebut, memiliki dua bentuk manifestasi. Yang pertama, potensi yang menuntut pemenuhannya secara pasti (baca:harus), jika tidak dipenuhi potensi ini, manusia akan mati atau fisik/jasadnya akan rusak, inilah yang disebut “kebutuhan jasmani” (hajatul udlwiyyah) berupa makan, minum, buang hajat. Yang kedua, potensi hidup yang pemenuhannya tidak harus atau tidak secara pasti memerlukan pemenuhan, jika tidak dipenuhi potensi ini manusia tidak akan mati, melainkan hanya akan gelisah, hingga terpenuhinya kebutuhan tersebut, inilah yang disebut dengan “kebutuhan naluri” (gharizah).

   Dari segi pemunculannya dalam bentuk aktivitas, antara keduanya sangat berbeda. Kalau kebutuhan jasmani, dorongan kemunculannya internal tubuh manusia itu sendiri,  seperti orang ingin  makan  atau  minum, karena perutnya lapar atau tenggorokannya haus, artinya tubuh manusia merasakan untuk dipenuhinya kebutuhan tersebut. Tapi berbeda dengan naluri, naluri baru akan muncul pemenuhannya jikalau, ada rangsangan dari ekstern tubuh manusia, bisa berupa fakta, fenomena, gambaran, persepsi tentang sesuatu yang merangsang naluri.

   Salah satu kebutuhan naluri, adalah kebutuhan naluri untuk suka terhadap lawan jenis (gharizatul na’u). Naluri tidak harus dipenuhi, tapi jikalau tidak dipenuhi manusia akan resah, sampai terpenuhinya naluri tersebut. Hanya saja, fenomena yang berkembang di tengah-tengah masyarakat kita terjadi kesalahan dalam memenuhi naluri, mereka memenuhi kebutuhan naluriah yang satu ini dengan pacaran, WIL-PIL, prostitusi, dll.

   Tentu sebagai seorang muslim yang telah bersaksi hanya menjadikan Allah sebagai sesembahan satu-satunya dan menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan hidup kita, maka segala sesuatu yang terjadi atau yang akan terjadi harus kita kembalikan ukuranya, standarnya pada standar atau hukum yang telah dibuat oleh Allah, Allah SWT berfirman yang artinya :

” ……dan jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” (TQS. an-Nissa 159)

   Untuk itulah, ketika memenuhi kebutuhan naluri yang satu ini, Islam tidak mengekang atau melarang manusia untuk memenuhi kebutuhan naluri tersebut. Sebagai Sang Khalik, Allah tahu dengan benar bahwa kebutuhan tersebut jika tidak dipenuhi akan menimbulkan keresahan, maka dari segi naluriah kebutuhan itu memerlukan pemenuhan agar timbul ketentraman atau ketenangan hati, Allah berfirman yang artinya :

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (TQS. al-A’raf  189)

“Dan termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia menciptakan bagi kalian isteri-isteri dari diri kalian agar kalian cocok dan tenteram kepadanya” (TQS. ar-Ruum 21)

   Dengan demikian syariat nikah atau kawin, bagi yang sudah mampu adalah untuk menentramkan jiwa manusia, sehingga tidak resah bahkan salah dalam pemenuhan kebutuhan seksnya. Karena dengan menikah atau beristeri atau bersuami maka akan ada tempat curahan hati, curahan perasaan, yang tentu saja dengan orang yang telah kita pilih sesuai dengan ketetapan hati kita memilih calon suami/isteri.

  

   Dengan kata lain, adanya kebutuhan naluriah tidaklah boleh disalahkan, keberadaanya sebagai sebuah fitrah tidak menjadikan manusia tersesat karenannya. Adanya perzinaan atau munculnya fenomena PIL-WIL, tidak lebih disebabkan adanya kesalahan memenuhi dan memahami naluri yang secara fitrah ada dalam diri manusia, dan keberadaanya tidak bisa dihilangkan, hanya saja besar atau kecil dorongan pemenuhannya sangat tergantung seberapa besar fakta atau persepsi yang mempengaruhi naluri tersebut.

 

Nikah dalam teropong Agama Fitrah

   Lalu, bagaimana dengan yang sudah menikah, terus kemudian dia masih resah atau gelisah atau dia malah selingkuh, kencan dengan WTS, dll? Seperti telah disebutkan diatas, bahwa kebutuhan naluri itu baru akan muncul pemenuhannya jikalau, ada rangsangan dari luar. Oleh karenanya, bisa jadi seseorang lebih banyak menjumpai fakta tentang free seks, kumpul kebo, samen liven, sementara dia tidak mendapat informasi bahwa fenomena itu salah dalam pandangan Islam, atau dia mendapatkan informasi tapi tidak dijadikannya pemahaman maka, akhirnya dia ikutan melakukan perbuatan tersebut. Sebab di sisi lain, perbuatan tersebut dibiarkan oleh negara dan masyarakat menganggapnya hal yang wajar. Akhirnya seseorang tadi menyimpulkan sendiri, hasil pemahaman faktanya, bahwa hal itu boleh dilakukan. Maka dia akan berusaha memenuhinya karena di dukung fakta perselingkuhan yang ditayangkan di televisi, koran dll. Kalau tidak dipenuhinya keinginan dia, maka dia akan gelisah atau resah, besar kecilnya frekuensi rasa gelisahnya sangat tergantung dari fakta dan persepsi yang mempengaruhi dia untuk berbuat demikian.

   Maka sangatlah benar, apa yang disabdakan Rasulullah SAW:

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)

   Demikianlah, menikah bagi yang sudah mampu adalah sarana untuk menahan pandangan, sebab pandangan atau mata  adalah sarana awal bagi sampainya fakta tentang sesuatu yang merangsang naluri. Dengan menahan pandangan mata dia telah mengurangi rangsangan terhadap naluri itu. Sementara, apa yang dilakukan seseorang dengan membujang atau menyimpan isteri lain di rumah lain, adalah tindakan yang tidak menjaga kemaluan alias tidak punya malu, baik terhadap Allah maupun terhadap masyarakat, keluarganya sendiri atau isteri syahnya.

   Walhasil, perintah Islam untuk menikah bagi mereka yang sudah mampu adalah peraturan yang sesuai fitrah manusia, yang tidak layak manusia menolak atau mengabaikannya. Rosulullah bersabda :

“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)

“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas.” (H.R. At-Turmidzi)

   Pernikahan telah dimudahkan Allah dan perzinaan diancam hukuman berat, karenannya perzinahan harus ditutup rapat-rapat. Hubungan laki-laki dan perempuan hanya dihalalkan melalui pernikahan. Segala bentuk hubungan diluar nikah adalah perzinahan yang diharamkan oleh Allah SWT. Islam mengatur seluruh kehidupan manusia, termasuk hubungan suami istri, antara pemimpin dan rakyat, antara majikan dan pegawai, namun yang paling mulia diantara manusia adalah yang paling bertaqwa kepada Allah SWT.

   Perzinahan apalagi dilokalisasi, memberikan saham 95,7% menularnya AIDS, begitu besarnya bahaya pelacuran. Pernikahan yang dihalalkan dan sah hanya antara laki-laki dan wanita yang sama-sama beriman, dan diharamkan pernikahan dengan orang kafir atau musyrik. Laki-laki bebas memilih wanita yang akan dinikahi, namun Rasulullah telah berpesan, bahwa wanita itu dinikahi karena empat hal, pertama karena  kecantikannya, kedua karena kekayaannya, katiga karena keturunannya, dan keempat karena agamanya. Pesan Rasul, agar agamalah yang dijadikan pertimbangan utama.

 

Nikah, tak sekedar kebutuhan biologis

   Tidak disangsikan bahwa perkawinan adalah satu-satunya sarana untuk menciptakan keluarga dan keturunan. Inilah fitrah dari Allah SWT yang dianugerahkan kepada umat manusia, kenyataan menunjukkan kehidupan ini tidak bisa tidak berkembang kecuali dengan adanya kebutuhan naluri yang diwujudkan melalui perkawinan.

   Islam melihat pernikahan itu bukanlah sekedar formalitas hubungan biologis, sekedar Samen Liven (kumpul kebo), atau sentuhan dari tubuh ke tubuh belaka ataupun sekedar pelampiasan naluri manusiawi  dan syahwat. Namun Islam mempunyai pandangan yang lebih dalam, lebih agung  daripada itu coba renungkan salah satu dari sekian petunjuk-Nya :

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah dia menciptakan  untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya  kamu  merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang….” (TQS. ar-Ruum, 21)

   Ketentraman disini bukannya sekedar ketentraman dari  syahwat yang bergejolak, tapi ketentraman dari kebingungan dalam  jiwa seseorang. Dari situ seseorang merasakan kekosongan yang harus diisi, kekurangan yang harus disempurnakan, kelemahan yang harus dikokohkan, kecukupan serta sesuatu yang dapat menghibur dan menggembirakan.

   Tahukah anda bagaimana  kondisi Rasulullah SAW, tatkala mendapatkan kesedihan dan kesempitan karena siksaan dan cobaan yang beliau alami dalam berdakwah? begitu beliau kembali ke pangkuan istrinya, lalu beliau sampaikan apa yang ada dihatinya dan segala siksaan yang dialaminya. Lalu Khodijah duduk di samping Nabi SAW, dan menghiburnya dari segala kecemasan, keresahan, cobaan yang menimpanya.

   Disini tampak jelas keimanan dalam perkataan Khodijah sebagai pelipur yang menenangkan. Itulah sebabnya, tatkala Khodijah pulang ke rahmatullah, beliau amat sedih karenanya.

   Demikian kemuliaan sistem pernikahan ini, sehingga syariat islam menilai dan menetapkan, bahwa pernikahan adalah setengah dari kesempurnaan agama dan iman.

   Memang benar, perkawinan adalah perpaduan biologis manusia, antara laki-laki dan perempuan, namun sejatinya bukan sekedar itu. Hubungan biologis hanyalah bagian kecil dari hubungan yang hakiki. Dari sini jelaslah perbedaan itu, bahwa seorang muslim berbeda dengan orang non muslim. Seorang muslim ketika melaksanakan pernikahan adalah demi menjalankan syariat Allah. Meski antara orang muslim dan non muslim sama-sama memiliki kebutuhan tersebut dan sama-sama ingin dipenuhinya, dan juga akan sama-sama melakukan hubungan suami isteri.

   Inilah perbedaan utama syariat islam dengan agama lainnya, yang menilai bahwa perkawinan hanya dilihat dari sisi pelampiasan seksual dan birahi. Lebih-lebih bagi mereka yang berideologis kapitalis dan sosialis yang didambakan hanyalah sekedar nilai material dan syahwat. Allah berfirman :

“…..Orang yang kafir itu bersenang-senang ( di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (TQS.  Muhammad 12)

   Bahkan dalam pandangan orang Barat pernikahan hanya sebagai lembaga formalitas, yang hanya untuk mendapatkan status sudah beristeri/bersuami. Selebihnya mereka bisa menghianati dengan kumpul kebo dengan orang lain. Jikalau cara seperti itu dilakukan oleh umat Islam, apalah bedanya orang muslim dengan orang Barat yang rusak pemikiran dan tingkah lakunya.

 

Pernikahan ; Dari Adat, Sipil dan Islam

   Ibarat sebuah bangunan, pernikahan atau rumah tangga juga membutuhkan tiang-tiang penyangga yang kuat dan kokoh. Keluarga akan kokoh jika ditopang oleh unsur yang terdiri dari individu-individu dan insan yang soleh,  takwallah,  kuat dan produktif. Namun sebaliknya jika keluarga tegak diatas  individu-individu yang rapuh keimanannya maka kehancurannya tinggal nungu waktu, itulah sebabnya syariat islam  memberikan perhatian yang serius bagi terciptanya sebuah keluarga, yang sakinah, mawadah, warahmah dan tegak diatas ridho Allah SWT.

   Di sisi lain, sistem pernikahan dalam Islam berbeda dengan yang terjadi pada pernikahan sipil. Dalam pernikahan sipil, disamping terdapat kesepakatan seorang wanita dan pria untuk menikah, mereka juga berbagi kesepakatan yang meliputi seputar kehidupan rumah tangga, dan berbagai akibat yang muncul karenanya, seperti kesepakatan tentang hak dan kewajiban suami-isteri, pemberian nafkah, hak perwalian dan pengasuh anak, pembagian waris, nasab, perceraian, pembagian kekayaan jika terjadi perceraian dan sebagainya.

   Dalam pernikahan sistem Islam, hal tersebut bukan dihasilkan dari kesepakatan bersama, tapi Islam memang telah memberikan aturan dan hukum mengenai hukum-hukum kehidupan rumah tangga dan semua yang diakibatkannya secara lengkap dan jelas. Penyimpangan terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh islam tersebut adalah sebuah kemaksiatan, meskipun hal itu didasarkan pada kesepakatan bersama dan sama-sama rela.

   Sehingga apa yang harus dilakukan oleh seorang muslim sebelum dia memilih calon isteri/suami adalah menyamakan persepsi atau menyatukan visi dan misi, disamping adanya rasa kasih sayang diantara keduanya (QS. Ar-Rum 21). Menyatukan persepsi yang dimaksud  disini adalah, menyatukan persepsi bahwa hanya Islam satu-satunya aturan yang akan diambil untuk mengatur dan memecahkan persoalan keluarga. Sehingga Islam kemudian mensyariatkan Khitbah (melamar).

   Khitbah, tidak boleh dan tidak bisa dipahami sebagai “setengah resmi” atau kalau menurut adat adalah meminang, sehingga dibolehkan berduaan di tempat yang sepi tanpa seorang mahram disampingnya atau yang lazim disebut pacaran, Rasulullah bersabda :

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah syaithan” (HR. Muslim)

“Janganlah salah seorang kamu berdua-duan (khalwat) dengan seorang wanita, kecuali wanita itu bersama mahramnya” (HR. Abu Daud)

   Khitbah dalam pandangan Islam, adalah sarana untuk saling mengenal lawan jenisnya, yang masih dalam koridor hukum Islam, sehingga tidak bisa disamakan dengan pacaran. Dalam khitbah sang calon suami diperbolehkan “melihat” calon isteri, yang tentu saja pihak wanita harus disertai mahramnya. Di khitbah juga, keduanya bisa saling mengetahui tentang calonnya, baik tanya langsung ke wanita atau laki-laki atau melalui perantara orang ketiga (baik keluarga dekat, teman, kerabat dll).

   Itulah diantara perbedaan tata cara sebelum melakukan pernikahan Islam yang tentu saja berbeda dengan pernikahan model sekarang, yang cenderung mengunggulkan segi kebebasan. Adapun hal-hal lain sebelum melangkah ke hal yang sangat penting dari pernikahan antara lain :

 

A. Memilih Suami

   “Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas.” (H.R. At-Turmidzi)

   Dari hadist di atas, Rasulullah SAW, benar-benar menganjurkan agar dalam memilih suami memprioritaskan  moral/kepribadian dan agama daripada faktor lainnya.

   Sungguh bukan  termasuk amalan terpuji bila seseorang menikahkan putrinya hanya karena mahar yang tinggi  dan mahal serta semata-mata karena  kekayaan yang melimpah. Faktor agama dan moral/kepribadian adalah syarat  mutlak  dalam menerima laki-laki pelamar. Sedangkan harta  dan  kedudukan  sama sekali tidak sebanding dengan keduanya.

 

B. Memilih Istri

   Bagi pemuda hendaknya jangan menjadikan kemolekan tubuh dan kecantikan sebagai tolok ukur  dalam memilih istri. Walaupun  juga Islam tidak mengingkari keberadaannya. Hanya saja jangan sampai terbawa ambisi setan  yang berlebihan dalam masalah material, kekayaan, kecantikan atau kedudukannya. Namun yang harus dipertimbangkan  adalah agama dan akhlaknya. Diriwayatkan dari Anas ra:

“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada  separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain.”

   Istri yang  sholihah hanya akan didapat dari wanita yang baik agama dan akhlaknya, ia akan membantu suaminya dalam meninggalkan perbuatan mubazir dan israf. Ia selalu mencegah dan mengingatkan suaminya agar tidak  melakukan perbuatan keji dan munkar. Selalu mengingatkan suaminya dan  anak-anaknya kepada Allah. Selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan menjaga kehormatan suami serta mendidik anak-anaknya  dengan pendidikan agama dan akhlak yang terpuji. Sehingga menjadi putra-putri yang soleh, yang kelak menjadi  pejuang dan pengemban dakwah Islam.

 

C. Adab Walima (Resepsi Pernikahan) yang Islami

   Karena pernikahan adalah ibadah, maka segala sesuatu yang berkaitan dengannya, termasuk tata cara pernikahanpun tidak boleh keluar dari konteks ibadah, yakni  tidak  keluar dari aturan islam. Meskipun walimatul ‘ursy tidak terpisahkan statusnya dari acara  pernikahan sebagai ibadah, namun dalam pelaksanaanya seringkali cenderung didominasi oleh adat-istiadat setempat yang disadari atau tidak akan merusak nilai ibadah itu sendiri.

   Hal-hal yang harus diperhatikan pada penyelenggaraan  walimah

(1) Bertujuan untuk melaksanakan ibadah.

Tidak dibenarkan menyelenggarakan walimah dengan didasari oleh kepentingan-kepentingan selain mencari ridlo Allah SWT. Harus   dijauhkan upacara-upacara yang mengandung kemusyirikan. Seperti ada sesajian atau bentuk-bentuk yang dipengaruhi oleh agama Budha dan Hindu. Menghindari kecenderungan sikap riya’ yakni memamerkan kemewahan, kekayaan atau kecantikan dan hal-hal lain yang sejenis.

(2) Menghindari kemaksiatan

Harus dihindari suasana campur baur (iktilath) antara undangan laki-laki dan wanita karena memang secara umum kehidupan kelompok laki-laki dan kelompok wanita adalah terpisah.

(3)  Mengundang kaum fakir miskin.

Tidak membatasi pada undangan  kaum kaya saja. “Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah dimana orang-orang miskin tidak diundang. (H.R. Muslim dan Baihaqi)

(4)  Menutup aurat dan tidak tabaruj.

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istrimu, anak-anak perempuanmu, wanita-wanita mukmin agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka.” (TQS. al-Ahzab 59).

Pengantin maupun tamu harus menutup aurat dan tidak boleh berhias secara berlebihan.

(5) Tidak menjadikan gadis sebagai penerima  tamu  laki-laki.

“Katakanlah  kepada laki-laki beriman, hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui  apa yang mereka perbuat.” (TQS. an-Nur 30).

Demi menjaga kesucian ibadah pada walimatul ursy, tidak ada dalam pandangan Islam bahwa tamu laki-laki diterima oleh penerima tamu perempuan atau sebaliknya.

 

Khatimah ; Ada apa dengan Nikah ?

   Pernikahan telah disyariatkan oleh Allah dengan hikmah ketentraman (sakanu) (QS. al-A’raf 189 dan QS ar- Rum 21). Bukan berarti jika dua orang telah terikat dalam sebuah perkawinan kemudian dan tidak mendapat ketentraman, maka syariat itu salah, bukan seperti itu. Tetapi sejatinya, kehidupan suami isteri adalah kehidupan persahabatan. Pergaulan antara keduanya adalah sepasang sahabat, dari persahabatan itulah timbullah ketenangan.

   Ketenangan atau persahabatan itu akan didapat jika masing-masing paham akan hak dan atau kewajibannya.

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf (TQS. Al-Baqaroh 228)

Ibnu Abbas juga pernah berkata :

“Sungguh, aku suka berhias untuk isteriku sebagaimana ia berhias untukku dan aku suka meminta agar dia menunaikan hakku terhadapnya”

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut” (TQS. an-Nisaa 19)

   Pergaulan suami terhadap isteri diantaranya memberikan mahar dan nafkah, bertutur kata lemah lembut, tidak berlaku keji dan kasar terhadap istrinya dan juga tidak memperlihatkan kecenderungan kepada wanita lain.

Kita dapati manusia yang paling baik perilakunya terhadap keluarga adalah Rasulullah Saw. Beliau pernah bersendau gurau dengan keluarganya, bersikap lemah lembut terhadap keluarganya, mampu membuat isteri-isterinya tertawa. Rasulullah juga pernah mengajak Siti Aisyah r.a, lomba lari, yang satu waktu dimenangkan Rasulullah, dan satu dimenangkan oleh istrinya Aisyah r.a, Rasulullah apabila telah usai melaksanakan sholat Isya’, masuk ke tempat tinggalnya dan bersendau gurau sejenak sebelum kemudian berangkat tidur.

Kadangkala, didalam pergaulan suami-isteri terdapat kekeruhan suasana, maka Allah menjadikan kepemimpinan rumah tangga di tangan sang suami (QS. an-Nisaa 34). Nabi pernah bertanya kepada seorang wanita “Apakah anda bersuami?” wanita itu menjawab “Ya”. Lalu beliau melanjutkan “Sesungguhnya ia (suami) itu adalah surga dan nerakamu”

Apabila isteri membangkang terhadap suaminya Allah SWT telah memberikan hak kepada suami untuk memberikan pelajaran terhadap isterinya (QS. an-Nisaa 34). Arti kepemimpinan suami di dalam keluarga bukan seperti penguasa yang otoriter, tapi kepemimpinan itu terkait dengan urusan rumah tangga saja. Oleh karena itu seorang isteri punya hak untuk menjawab ucapan suaminya, berdiskusi dan membahas masalah rumah tangga berdua, sebab keduanya laksana sahabat, bukan antara pemimpin dengan bawahan.

   Walhasil, jika ada yang bertanya “Ada apa dengan Nikah?” maka jawabannya : Di dalam nikah ada persahabatan yang didasarkan atas perintah Allah dan Rasul-Nya, yang mengandung hikmah ketentraman. Bukan persahabatan yang dimurkai oleh Allah tapi persahabatan yang diridhoi oleh Allah, karena persahabatan itu hanya didasarkan pada ketaaatan terhadap perintah Allah semata. Bukan pula persahabatan yang hanya didasarkan atas cinta dan birahi semata, tapi persahabatan atas dasar kecintaan keduanya terhadap Allah dan Rasul-Nya.

 

* Pesan Allah kepada kaum laki-laki :

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (TQS. an-Nur : 30)

* Pesan Allah kepada kaum wanita :

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaknya mereka mengulurkan kerudung ke dada mereka”. (TQS. an Nur : 31)

* Kewajiban kepada laki dan wanita :

“Dan tidaklah patut bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menentapkan suatu ketetapan (hukum) akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka…”. (TQs. al Ahzab : 36)

 

* Pesan Rasulullah kepada istri:

“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya”.

 

   Inilah diantaranya tuntunan-tuntunan dasar pernikahan menurut pandangan Islam. Apabila sebuah upacara pernikahan dan  walimah diselenggarakan dengan  tata cara demikian, Insya Allah keberkahan ibadah dalam pernikahan itu akan diperoleh, jika sebaliknya maka nilai  ibadahnyapun  akan rusak.

   Dengan demikian, tetap membiarkan atau melaksanakan upacara walimah dengan budaya/adat yang tidak islamy hanya akan membawa kerusakan ibadah dan segera harus ditinggalkan.

 

 

Renungan Pernikahan

Suamiku …

Jangan engkau menginginkan untuk menjadi  raja dalam istanamu, disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan. Jika kau lakukan  “istanamu” itu, maka pernikahanmu tidak akan langgeng. Lihatlah manusia teragung Muhammad SAW, tidak marah ketika harus tidur didepan pintu beralaskan sorban karena sang istri  tidak mendengar kedatangannya. Tetap tersenyum meski tidak ada makanan yang tersaji dihadapannya ketika lapar.

Istriku…

Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam istanamu, disayang,  dimanja, dan dilayani suami serta terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu. Jika engkau lakukan  “istanamu” akan menjadi neraka bagimu.

Suamiku…

Jika engkau menjadi bapak, jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul  Hakim. Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim As. Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad SAW. Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah jadikanlah dia sebagai Yusuf yang berbakti. Jadikanlah ia sebagai Ismail yang taat. Jangan kau jadikan Kan’an yang durhaka. Mohonlah kepada Allah, mintalah kepada Allah agar mereka menjadi anak yang sholeh.

Istriku…

Jika engkau menjadi ibu, jadilah ibu yang bijak, ibu yang teduh. Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu. Jadikan mereka mujahid. Jadikan mereka tentara-tentara Allah. Jangan biarkan mereka bermanja-manja. Jangan biarkan mereka bermalas-malasan. Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang sholeh, yang selalu bertaqwa dan bertambat kepada Allah. Jadilah  ibu yang memberi tauladan kepada anak-anakmu.

Mertuaku…

Tidaklah aku bisa memberi harta yang berlimpah, kedudukan yang mulia di mata manusia. Karena sesungguhnya itu bisa hilang dan mudah hilang. Aku hanya bisa menyajikan sebuah akhlak yang mulia.

Orang tuaku…

Tidaklah ada dihadapanmu nantinya, sederet kebutuhan yang begitu mudah dipenuhi. Kenikmatan yang bisa didapat dengan semudah membalik tangan. Olehlah itu, jikalau aku tengah berusaha bersama keluargaku, maka akan aku usahakan untuk tetap menjadikan anak menantumu juga taat kepadamu sebagaimana aku taat kepadamu.

Saudara-saudaraku…

Jika yang kau inginkan dihadapan kalian, adalah hadir seorang anggota keluarga baru yang bisa berakhakul karimah, yang merasai penderitaan saudaranya. Maka disitulah aku dan keluarga ada. Jangan kau caci aku dan keluargaku jika aku tengah menjalankan perintah Allah, seharusnyalah aku bisa ikut membawamu serta menjalankannya. Karena kau ataupun aku pasti tidaklah ingin memakan daging saudaranya.

 

 

Do’a Nikah :

 

Akhirnya mari kita panjatkan do’a  barokah kepada  kedua mempelai :

 

Barokallahu laka wa baroka’alaika wajama’abainakuma  fi khair.”

 

Semoga Allah memberikan keberkahan dan menetapkan keberkahan itu padamu serta menghimpun kalian berdua didalam kebaikan. Allahumma Amin.

 

 

Ya Allah…

Jadikanlah keluarga kami, keluarga yang mawadah, penuh kasih, sakinah penuh ketentraman dan ramah penuh kasih sayang. Amin….

 

“Ya Allah turunkanlah  kami untuk mensyukuri nikmatMu atas kami dan ibu bapak kami. Berilah kekuatan untuk beramal dalam rangkulan keridloan-Mu. Limpahkan rahmat kepada kami dan limpahkan kebaikan bagi anak cucu  kami. Ya Allah masukkanlah kami dalam golongan orang-orang yang bertambat lagi berserah diri.” (TQS. al-Ahqaaf :15)

 

“Ya Allah yang Maha Pemberi dan Maha Penyayang Berikan mereka rizqi yang baik dan halal, jadikanlah anak-anak yang dilahirkan menjadi anak yang sholeh dan senantiasa mendo’akan kepada kedua orang tuanya”

 

“Ya Allah yang Maha Besar dan Maha Mulia, Berikanlah kepada keduannya, dan kepada kami semua keluarga Sakinah, Mawaddah dan Rohmah saling menyayangi satu dengan yang lain dan jadikanlah kami menjadi imam bagi orang yang bertaqwa”.

 

“Ya Allah yang Maha Pengampun dan Penerima Taubat, Terimalah amal ibadah kami, ampunilah kekurangan, kelemahan, kesalahan dan dosa-dosa kami. Berilah rahmat kepada kedua orang tua kami yang telah menjadikan kami orang beriman dan berilmu. Ya Allah terimalah do’a kami”

 

Robbanaa aatina fiddunya khasanah wa filaakhirati khasanah wa kinaa adza bannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aa lamiin.

 

Make a Comment

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: