Akibat Pergaulan Bebas

Posted on Disember 23, 2008. Filed under: akhlak, edukation | Tags: , , |

Pengguguran kandungan makin mengkhawatirkan. Ditemukan, 2,3 juta wanita melakukan aborsi setiap tahun, dan 60 persen di antaranya meninggal dunia.

SEPINTAS, rumah berlokasi di Jl. Raden Saleh, Jakarta Pusat, itu tak beda dengan tempat tinggal lainnya. Halamannya ditata cukup asri. Pohon tumbuh di berbagai sudut. Namun, tak seperti tetangganya yang adem ayem, rumah ini hampir saban hari dikunjungi banyak wanita muda dari penjuru Jakarta. Maklum, dari pagi hari hingga sore, rumah ini menjadi tempat praktik seorang dokter ahli kandungan.

Begitu Anda datang, sesaat itu juga seorang lelaki akan menghampiri. Pria setengah baya ini –sebut saja Ujang (bukan nama sebenarnya)– sudah menawarkan jasa. “Anda mau aborsi, ini, lo, kartu nama saya. Hubungi saya setiap waktu di nomor telepon ini. Saya, sih, tak minta apa-apa. Saya sudah dapat persen dari dokter,” tutur Ujang kepada GAMMA.

Jika tak mau lewat Ujang, si pasien bisa berhubungan langsung dengan sang dokter. Tentu saja lewat pendaftaran di sebuah ruang yang telah disediakan. Nah, ruangan berukuran sekitar 6 x 12 meter itu, pekan lalu, dikunjungi banyak wanita muda nan cantik yang hendak melakukan pengguguran kandungan (aborsi). Usia wanita muda itu ditaksir baru 20 hingga 21 tahun. Tapi, banyak pula yang masih berusia 17-18 tahun. Mereka bertandang ke tempat itu didampingi oleh ibu atau pasangannya.

Untuk melakukan aborsi, prosedur yang harus dilaluinya cukup sederhana. Mereka cukup mendaftar di sebuah meja, lalu menunggu giliran dipanggil oleh dokter. Pada tahap ini si pasien tak ditanya apakah sudah menikah atau belum. Setelah itu dilakukanlah pemeriksaan kandungan. Dengan data yang telah diambilnya, sang dokter kemudian mengambil keputusan untuk melakukan aborsi pada keesokan harinya.

Biaya dan tingkat kesulitan proses aborsi amat beragam. Tergantung dari seberapa besar usia kandungan si pasien. Makin besar perut wanita muda itu, kian besar pula biaya yang harus dikeluarkannya. Saat GAMMA melakukan penelisikan ke tempat itu, ongkos yang dikeluarkan si pasien antara Rp 500.000 hingga Rp 4 juta.

Nah, melakukan aborsi bagi remaja di kota-kota besar saat ini di Indonesia bukan hal yang tabu. Gejala ini, kata Prof. Dr. Azrul Azwar, M.P.H., Dirjen Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan dan Sosial (Depkessos), makin mengkhawatirkan. Apalagi, berkembangnya perilaku pergaulan bebas dengan didorong penyalahgunaan obat terlarang tak bisa diredam begitu saja. Menurut data, sekitar 2,3 juta wanita muda usia setiap tahun melakukan aborsi. “Dari angka itu, sekitar 15-20% di antaranya dilakukan di luar nikah,” ungkap Azrul.

Yang menghebohkan, dari kasus aborsi yang ditemukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Kesehatan Masyarakat, sebanyak 60% berakibat pada kematian. Angka kematian terhadap ibu dan anak akibat aborsi itu menjadi lebih parah seiring dengan masih tingginya tingkat kematian ibu saat melahirkan. Jadi, sebanyak 373/100.000 ibu hamil wafat saat melahirkan. “Sebanyak 58/1.000 bayi yang dilahirkan juga berakhir dengan kematian,” Azrul menambahkan.

Data yang dilontarkan Azrul membuat banyak orang terhenyak. Pergaulan bebas muda-mudi belakangan ini tak bisa lagi dibasmi. Akibat aborsi, ujung-ujungnya, wanita dan bayi menjadi korban. Karena itu, Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH-APIK) berupaya melakukan provokasi. “Keadaan ini cukup mengenaskan,” ungkap Sri Wiyanti Eddyono dari LBH-APIK.

Menurut temuan LBH-APIK, aborsi yang dilakukan para dokter sekarang ini tidak dilakukan dengan prosedur yang aman, apalagi memenuhi standar medis. Akibatnya, hal itu jelas membahayakan si pasien dan bayinya. “Sementara bagi remaja, karena kondisi biologisnya yang masih muda, mereka belum siap,” ujar Sri.

Dari sisi hukum, aborsi sebenarnya dilarang kecuali dengan pertimbangan medis dan berkaitan dengan UU Kesehatan. Namun, untuk mencari jalan keluarnya, LBH-APIK menyarankan agar pemerintah segera melakukan tindakan. Paling tidak, menurut Sri, seks perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. “Mengapa tidak, karena pada kenyataannya pendidikan seks yang dilakukan tertutup justru mengakibatkan remaja akan mencari tahu secara diam-diam dan tak terarah,” Sri menambahkan.

-ARI, Ira Yuanita, dan Dewi Nuraini

Make a Comment

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: