KONSPIRASI TERHADAP KHILAFAH ISLAM

Posted on Disember 23, 2008. Filed under: politik, sejarah | Tags: , , |

Kini sistem khilafah Islamiah telah tiada dari muka bumi,  ia dihapuskan secara rasmi pada  3 Mach 1924. Hilangnya sistem khilafah berarti hilangnya sebuah sistem peradaban Islam yang menyatukan dunia Islam di bawah  satu kekuatan,  menyatukan kehidupan kaum Muslimin dalam berbagai aspek kehidupan yang berlandaskan syari’at  Islam di bawah satu kepimpinan. Hilangnya sistem khilafah juka berarti hilangnya “Daulah Islam” yang  menurut Dr. Yusuf Qardhawi merupakan perwujudan ideologi Islam yang mewarnai kehidupan  kaum  Muslimin di dalam segala lapangan kehidupan.

Jika ditelusuri, ada dua sebab kehancuran khilafah Islam, yaitu sebab dalaman dan sebab luaran.  Sebab dalaman adalah sebab-sebab yang timbul dari dalam umat Islam sendiri, beserta khilafahnya.  Sedangkan sebab luaran adalah sebab-sebab yang datang dari luar umat Islam. Salah satu sebab  luaran yang sangat penting adalah peranan gerakan Zionis dalam menghancurkan khilafah Islam.

 ZIONIS

Gerakan Zionis Internasional yang bersifat politik muncul setelah Theodor Hertzl mengajukan gagasan negara Yahudi. Gerakan ini muncul karena rasa persaudaraan yang erat di dalam ras Yahudi  dan adanya perasaan tentang pernyataan Tuhan mengenai ketinggian ras Yahudi dibandingkan ras  lain dan kepada ras Yahudilah semua manusia mendapat berkah (lihat Al-Kitab: Kejadian,  22:18). Ayat ini mendorong kelompok-kelompok Yahudi untuk menjadikan diri mereka sebagai  “penguasa dunia”.

Sedangkan Konferens Organisasi-organisasi Islam sedunia di Makkah Al-Mukarramah pada tahun 1974 memberikan rumusan mengenai zionisme sebagai suatu gerakan politik rasial yang percaya  bahwa ras Yahudi adalah ras yang paling tinggi darjatnya di muka bumi. Orang lain dianggap bagai  binatang yang memberikan pelayanan kepada orang-orang Yahudi. Gerakan ini mempunyai ambisi untuk menguasai seluruh dunia dengan peranantaraan satu pemerintahan dunia yang berpusat di negera  yang kini dikenal dengan Israel (Munawwir, 1986:120).

Roger Garaudy membagi zionisme ke dalam dua kategori: zionisme keagamaan dan zionisme politik.  Zionisme keagamaan jumlahnya sangat sedikit. Zionisme spiritual ini tidak merancang suatu kegiatan  politik apapun untuk membentuk negara melalui penguasaan Palestin (Garaudy, 1988:19-20).

Sedangkan zionisme politik bermula dari kedatangan orang-orang Yahudi-Arkenazim pada tengah  abad ke-19. Selanjutnyua pada tahun 1881 berdiri gerakan Chovevei Zion (Pencinta Zion). Gerakan  ini melakukan pemindahan orang-orang Yahudi Arkenazim ke Palestin, terutama pada tahun 1882-1884 dan 1890-1891. Upaya pemindahan Yahudi ke Palestin juga dibiayai oleh seorang pengusaha besar Baron de Rothschild.

Sementara itu, terdapat seorang yang bernama Theodor Hertzl yang memunculkan isu Zionisme ke permukaan melalui bukunya “Der Judenstaat” pada tahun 1896. Sejak saat itu ia berusaha  kewujudkan impiannya. Ia pun membentuk die welt, surat khabar Zionis untuk mendukung  usaha-usahanya.

Pada 29-31 Ogos 1897, dilaksanakan Kongres Zionis pertama di Basle, Swiss. Dalam  pertemuan ini hadir sekitar 197 delegasi yang terdiri dari kaum ortodoks, nasionalis, liberalis, atheis,  kulturalis, sosialis, kapitalis. Mereka menghasilkan “Protokol Basle” yang merupakan tujuan-tujuan  gerakan tersebut.

Selanjutnya, gerakan-gerakan Zionis disatukan di bawah bendera Zionist Organization. Mereka  membentuk Jewish Colonial Trust, sebuah bank yang merupakan instrumen kewangan bagi organisasi  zionis. Tahun 1902 dibentuk perusahaan bagian dari Jewish Colonial Trust, yaitu Anglo-Palestine  Company. Institusi lainnya ialah Jewish National Fund, yang dicetuskan oleh Hermann Schapira  pada kongres pertama dan disetujui pada kongres keempat di London tahun 1900.

 SASARAN UTAMA

Atas segala keyakinan dari program-programnya, maka gerakan zionis telah menjadikan bumi Palestin yang dipandang sebagai “tanah suci” mereka, menjadi sasarannya. Palestin dijadikan sebagai tempat kembalinya koloni Yahudi, sekaligus mewujudkan segala tujuan-tujuan Yahudi. Dengan Palestin  sebagai tempat berdirinya negara zionis Israel inilah maka kaum Yahudi akan melaksanakan  Messianic Mission (misi juru selamat) di dunia.

Dengan dijadikannya Palestin sebagai sasarannya tersebut merupakan suatu alasan yang kuat mengapa kaum Yahudi dalam kongres ke 6 di Basle tahun 1903, menentang usulan Perdana Menteri  Inggris, Chamberlain, untuk menempati Kenya sebagai tempat orang-orang Yahudi. Hertzl  menyangka yang ditawarkan oleh Chamberlain adalah Uganda, sehingga ide ini dikenal sebagai  “Proposal Uganda”. Kemudian pada kongres ke 7 di Basle 1905, proposal Uganda ditolak oleh  para delegasi Yahudi yang hadir. Usulan lain yang ditolak adalah “Egypt Proposal” yang hendak  menjadikan Mesir sebagai tempat orang-orang Yahudi (lihat Halloum, 1988: 141-142). Penolakan  ini juga sebagai pembuka babak baru Zionisme sebagai suatu ideologi yang menggambarkan  aktiviti politik dan praktis di Palestin.

Usaha keras kaum Yahudi di dalam mewujudkan sasaran-sasarannya tersebut diperkuat dengan dikembangkannya organisasi-organisasi transnasional yang berafiliasi pada kepentingan Yahudi.
Organisasi-organisasi tersebut melakukan program-program untuk mempengaruhi dunia sekaligus
sebagai media untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan Yahudi. Organisasi-organisasi  transnasional  yang berafiliasi pada kepentingan Yahudi tersebut jaringannya tersebar di seluruh  dunia.
 

INTERAKSI DENGAN KHILAFAH

Wilayah Palestin yang dijadikan sasaran kaum Yahudi, adalah merupakan bumi yg diperintah oleh Daulah Khilafah Turki Utsmani, yang ketika  itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II. Baginda memegang tampuk pemerintahan menggantikan Sultan Abdul Aziz yang meninggalkan kondisi negara  dalam keadaan gawat seperti hutang luar negeri, parlimen yang tidak berfungsi, campur tangan kuasa asing, berbagai kepentingan Dewan Negara dan Dewan Menteri serta  birokrat-birokrat yang korup. Pemerintahan Sultan Abdul Hamid II berpusat di Istanbul Turki.

Sultan Abdul Hamid II menjalankan  kekuasaan dengan baik, juga sering berbicara dengan berbagai lapisan masyarakat, baik birokrat,  intelektual, rakya jelata maupun dari kelompok-kelompok yang kurang disukainya (lihat Shaw, 1977:212).  Kebijaksanaannya untuk mengayomi seluruh kaum Muslimin membuat ia populer. Penggalangan  kekuatan kaum Muslimin dan kesetiaan mereka terhadap Sultan Abdul Hamid II ini berhasil  mengurangi tekanan Eropah terhadap Uthmaniah.

Untuk mewujudkan impian para zionis membentuk suatu pemerintahan nasional Yahudi di Palestin,  maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk menguasai Palestin. Pertama-tama kaum Yahudi yang  dimotori oleh Hertzl melalui rekannya Neolinsky mengajukan permohonan kepada Sultan Abdul  Hamid II, namun ditolak dengan keras.

Setelah dilangsungkannya kongres Zionis di Basle 1897, kembali diajukan kepada Sultan Abdul  Hamid II mengenai penyerahan sebagaian tanah Palestin bagi para pendatang Yahudi. Delegasi  Yahudi-Zionis yang dipimpin oleh seorang tokok zionis Utsmani bernama Carruso (Qrasu) meminta  izin agar Sultan memperkenankan orang-orang Yahudi mengunjungi Palestin dan mendirikan perkampungan dekat Jerusalem dengan menawarkan keuntungan yang tidak sedikit. Mendengar  tawaran ini, Sultan malah marah yang diikuti dengan semakin diperketatnya peraturan “Passport  Merah” yang mempersulit keberadaan pendatang-pendatang Yahudi di Palestin.

Selain strategi langsung menemui khalifah kaum Muslimin, Sultan Abdul Hamid II, dalam menguasai  Palestin, maka kaum Yahudi-Zionis juga melancarkan strategi tidak langsung yaitu melalui gerakan Freemansory yaitu gerakan Yahudi Zionis transnasional dan diplomasi Zionis di luar Uthmaniah.

Gerakan Freemansory memiliki hubungan yang sangat kuat dalam perkembangan organisasi “Ittihat  ve Terrakki” (Al-Ittihat wa al-Tarraqqi; Persatuan dan Kemajuan) yang berkembang sangat pesat di Salonika Turki. Anggota-anggota Komite Persatuan dan Kemajuan dikenal dengan Turki Muda (Young Turks) yang sangat dekat dengan militer dan banyak anggota-anggotanya yang merupakan  orang Yahudi (Jews) dan Cryto Jews Salonika. Untuk menjalankan roda organisasi, mereka  mendapatkan sokongan kewangan dari orang-orang Dunama yaitu sekelompok orang-orang Yahudi  yang masuk ke dalam agama Islam namun secara sembunyi-sembunyi tetap mempertahankan  ke-Yahudi-annya (Amini, 1978:125). Pada organisasi Komite Persatuan dan Kemajuan inilah,  pemikiran-pemikiran (fikrah) Yahudi ditanamkan.

Komite Persatuandan Kemajuan sesuai dengan program utamanya yang dipublikasikan, berusaha  secara besar-besaran menekan Sultan Abdul Hamid II guna memberlakukan kembali perlembagaan  1879 yang dirancang oleh Midhat Pasha seorang Dunama anggota Freemason. Usaha ini berhasil  sehingga Sultan Abdul Hamid II memberlakukan kembali perlembagaan 1879 dan membentuk kembali  parlimen yang sudah dibubarkan.

Pemberlakuan kembali perlembagaan 1879 telah menyulut kerusuhan yang terjadi pada tanggal 13 April  1909 yang menunjukkan penolakan masyarakat yang mayoritas Muslim terhadap kekuasaan Komite  Persatuan dan Kemajuan sekaligus wujud kebencian terhadap Freemasonry dan terutama dari  kalangan para ulama. Para ulama menilai bahwa perlembagaan 1879 dapat membawa Khilafah  Uthmaniah ke arah sekularisme dan pemerkosaan terhadat syari’at Islam.

Untuk “memulihkan ketertiban”, maka pejabat-pejabat militer Macedonia mengirimkan pasukan  Harekat Ordusu dari Salonika. Akan tetapi pasukan yang dipimpin oleh Dunama-Freemason  bernama Ramzy bey ini malah berbalik menyerang keduduka Sultan dan menghancurkan  barikade-barikade pertahanan para penentang konstitusi. Akibat peristiwa ini kemudian dipecatnya  Sultan Abdul Hamid II dari kedudukannya sebagai Sultan-Caliph oleh parlemen.
 

Terhadap peristiwa pemecatan ini, Sultan Abdul Hamid II menuding kelompok Yahudi sebagai  pihak yang bertanggung jawab. Hal ini terungkap dalam surat Sultan Abdul Hamid II kepada salah  seorang gurunya Syekh Mahmud Abu Syamad yang berbunyi:

——————————————————————————
“…Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan karena tipu daya  dengan berbagai ancaman dari tokoh-tokoh Organisasi Persatuan yang dikenal dengan sebutan Cun  Turk (Jeune Turk), sehingga terpaksa saya meninggalkan kekhalifahan itu. Sebelumnya, organisasi ini  telah mendesak saya berulang-ulang agar menyetujui dibentuknya sebuah negeri nasional bagi  bangsa Yahudi di Palestin. Saya tetap tidak menyetujui permohonan berulang-ulang yang memalukan ini.  Akhirnya mereka menjanjikan uang sebesar 150 juta pounsterling emas. Saya tetap dengan tegas  menolak tawaran itu. Saya menjawab dengan kata-kata,

<< Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu.  Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri.  Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para  Sultan dan Khalifah Uthmaniah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian.>>

Setelah mendengar dan mengetahui sikap dari jawaban saya itu, mereka dengan kekuatan rahsia  yang dimiliki memaksa saya menanggalkan kekhalifahan, dan mengancam akan mengasingkan saya  di Salonika. Maka terpaksa saya menerima keputusan itu daripada menyetujui permintaan mereka.  Saya banyak bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk mencoreng Daulah Uthmaniah,  dan dunia Islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri  Yahudi  di tanah Palestin. Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan-bosan mengulang rasa syukur kepada  Allah Ta’ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu. Saya rasa cukup di sini apa yang perlu  saya sampaikan dan sudilah anda dan segenap ikhwan menerima salam hormat saya. Guruku yang  mulia. mungkin sudah terlalu banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, Anda beserta jama’ah  yang anda bina bisa memaklumi semua itu.

Wassalamu’alaikum Wr.wb.
22 September 1909
ttd
Pelayan Kaum Muslimin
(Abdul Hamid bin Abdul Majid)
(Carr, 1991:21)
——————————————————————————-

Penurunan Sultan Abdul Hamid II dari kedudukannya sebagai Sultan-Caliph menandai berkuasanya  Komite Persatuan  dan Kemajuan secara langsung dalam pemerintahan Uthmaniah. Untuk  melempangkan kekuasaannya, maka kemudian Komite Persatuan dan Kemajuan mengambil garis  tegas untuk menjalankan ide Turanisme (Nasionalisme Turki) di berbagai bidang.

Strategi diplomasi Yahudi di luar Uthmaniah dilakukan dengan pendekatannya terhadap  pemerintahan Inggris dan Jerman untuk menyokong usaha-usaha kaum Yahudi. Pendekatan  terhadap pemerintahan Inggris menghasilkan “Deklarasi Balfour” yang berisi persetujuan  pemerintahan Inggris untuk mendirikan negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestin dan  mendukung untuk tercapainya usaha tersebut. Deklarasi Balfour inilah yang merupakan titik kunci  permasalahan Palestin hingga kini.

KHILAFAH UTHMANIYAH RUNTUH

Dimulai dari kekalahan Uthmaniah dalam Peperangan Dunia I yang ditandai dengan masuknya pasukan  Inggris ke Istanbul dan menguasai pemerintahan.  Mustafa Kamal adalah anggota Freemason yang menjadi  salah seorang pimpinan pasukan Uthmaniah yang ditugas menghadang gerak laju sekutu di  Anatolia, akhirnya mempengaruhi dan mengumpulkan massa untuk memberontak terhadap  kekuasaan Khalifah di Istanbul.

Dengan berbagai taktik dan strategi akhirnya Mustafa Kamal membentuk parlimen baru yaitu Majlis  Raya Nasional pada tanggal 19 March 1920. Selanjutnya Kamal mempelopori Majlis untuk  membentuk negara baru yaitu negara nasional Turki. Kemenangan pasukan Kamal menghalau  pasukan sekutu yang diikuti dengan gencatan senjata dan perundingan pada tanggal 3-11 Oktober  1922 semakin memperkokoh posisi Kamal.
 
Tanggal 1 November 1922, Majlis Raya Nasional mengundangkan peraturan baru yang  memisahkan antara kesultanan dan kekhalifahan. Pengundangan peraturan baru berakibat  dibubarkannya seluruh perangkat negara Uthmaniah dan Isanbul secara administratif dikuasai oleh  Majlis Raya Nasional. Selanjutnya tanggal 4 November 1922 kabinet Taufiq Pasha di Istanbul  mengundurkan diri dari jabatannya dan diperintahkan untuk menghentikan kegiatannya. Sultan  Muhammad VI Wahiduddin saat itu merasa dalam bahaya akhirnya mengasingkan diri ke Malta.  Majlis memilih Abdul Majid II bin Abdul Aziz sebagai penggantinya yang dibai’at oleh kaum  Muslimin sedunia.

Sementara itu, pada tanggal 21 November terjadi perjanjian antara Inggris dan Turki untuk  membahas penyelesaian masalah Turki. Dalam kesempatan tersebut Inggris mengajukan  syarat-syarat agar pasukannya dapat ditarik dari wilayah Turki, yang dikenal dengan “pernyataan  Curzon”, yaitu:

1. Turki harus menghapuskan Khilafah Islamiyah serta mengusir khalifahnya dan menyita semua harta  kekayaannya.

2. Turki harus berjanji untuk menghalangi setiap gerakan yang membela kekhalifahan.

3. Turki harus memutuskan hubungannya dengan dunia Islam.

4. Turki harus menerapkan hukum sipil sebagai pengganti hukum Daulat Uthmaniah yang  bersumberkan Islam.

Persyaratan tersebut diterima oleh Mustafa Kamal dan perjanjian ditandatangani pada tanggal 24 Julai
1923.

Akhirnya melalui perdebatan alot dan tekanan pada tanggal 3 March 1924, Majlis Raya Nasional  menghapus jabatan Khalifah dan khalifahnya saat itu Sultan Abdul Majid II diusir keluar negeri.  Penghapusan khilafah ini kemudian diikuti dengan pemberangusan segala unsur Islam dalam  masyarakat. Dari mulai penutupan dan pengalihfungsian masjid-masjid, pelarangan penggunaan  bahasa Arab, tulisan Arab dan pakaian Muslim sampai penghapusan Mahkamah Syari’at dan  perubahan penanggalan Masehi. Tindakan ini memutuskan Turki dari masa lalunya yang dilandasi  Islam dan memutuskannya dari Dunia Islam. Dengan demikian berakhirlah Khilafah Islam yang telah  dipertahankan selama 13 abad, dan berakhir pula kekuasaan Uthmaniah yang berlangsung sekitar  640 tahun.

Prestasi Mustafa Kamal Attaturk seorang agen Freemason Yahudi dalam menghapuskan Khilfah ini,  sangat dibanggakan oleh Freemason yahudi yang  disebutkan dalam Ensiklopedi Freemasonry:

—————————————————————————–
“Revolusi Turki (yang dimulai) pada tahun 1918 yang diprakarsai oleh saudara yang mulia Mustafa  Kamal Attaturk sangat menguntungkan rakyat, melenyapkan kekuasaan Sultan, memberantas  Khilafah, menghilangkan Mahkamah Syari’at, menyingkirkan perananan agama Islam dan  menghapuskan kementerian wakaf. Bukankah semua ini merupakan pembaharuan yang dikehendaki  Freemasonry dalam setiap bangsa yang sedang bangkit? Siapa di antara tokoh Freemasonry yang  dapat menandingi Attaturk, baik dulu maupun sekarang?”

Make a Comment

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: