Seks Bebas, Aborsi dan Moralitas Islam

Posted on Disember 23, 2008. Filed under: akhlak, edukation | Tags: , , |

Islam merupakan agama penyelamat dan penyucian jiwa. Siapa yang memeluk dan mengimani, atau menempatkannya sebagai “imam” sejatinya, maka pola hidup yang dikonstruksinya dan jati diri yang diberdayakannya akan tetap terjaga kesuciannya.
Hidup manusia yang tetap berada dalam tataran keimanan sejati itu bukan hanya akan dapat meraih kebahagiaan dan kedamaian sejatinya, namun juga tetap terjaga harkat kesuciannya sebagai khalifah, pelaku sejarah yang bertugas membumikan hukum-hukum Allah SWT.
Manusia dengan mudah dapat tergelincir pada perilaku dan pola hidup yang menyesatkan, akrab dengan kekacauan dan lekat dengan kebiadaban tatkala Islam tak ditempatkan kehidupannya.
Padahal sebagaimana Firman Allah SWT, “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (Surat Ali Imran, ayat 110).
Komunitas Pilihan
Ayat itu menunjukkan, manusia yang sudah mendapatkan bimbingan Islam merupakan komunitas pilihan, yang mendapatkan tugas untuk menyebarkan dan menyejarahkan moralitas keagamaan, seperti menghindarkan (menyelamatkan) diri dari pesona dan jebakan kemaksiatan.
“Mencegah dari yang mungkar” pada ayat itu, ditafsirkan oleh Budayawan Kuntowijoyo dalam Identitas Politik Umat Islam (1997) sebagai “Theology of Liberation”, suatu praksis keagamaan yang menekankan pada kesungguhan upaya dalam mencegah beragam kemungkaran.
Peperangan (jihad) terhadap beragam kemungkaran merupakan “proyek” untuk meraih keselamatan, kemenangan, atau keunggulan kebenaran atas kesalahan, kemaslahatan di atas kemudaratan, dan keadilan di atas kejahatan.
Kalau manusia dapat menjadi pemenang, maka ia tetap menempati posisi sebagai komunitas muslim terbaik (ahsani taqwiim), yang telah menunjukkan peran-peran kemanusiaannya sebagai agen pembebas, dan tidak terjerumus pada kantong inferioristik sebagai subjek yang tak beruntung, yang identitasnya bergeser lebih rendah dibandingkan binatang (asfala saafilin).
Dalam Apologie de L’Islamisme, Laura Vecci Vagileri memaparkan, “Islam itu suatu agama yang tak hanya berupa suatu teori yang sesuai hasrat dan tabiat kemanusiaan kita, dan tak pula sebagai ajaran yang mulia belaka, tapi juga agama yang memberikan aturan-aturan hidup, agama yang menata prinsip moralitas kita secara fundamental di atas dasar-dasar yang sistemis dan positif”.
Paparan Vagileri itu makin mempertegas mengenai urgensinya beragama (ber-Islam). Dengan ber-Islam yang sebenarnya, berarti manusia dituntut menjadikan ajaran Islam bukan hanya sebagai way of life, namun juga sebagai rule of game yang memondasi dan menggerakkan perilakunya supaya lestari di jalan kebenaran.
Kendati begitu jelas jalan keselamatan dan kemanusian yang dijustifikasi dan ditunjukkan Islam, namun tak semua manusia beragama (yang sudah “bersyahadah”) yang menempatkannya sebagai kiblat dan imam sejatinya.
Tak sedikit manusia beragama yang menjadikan kesenangan duniawi (hedonistik-materialistik), dan kepuasan nafsu seksual sebagai kemasan dan tujuan hidupnya.
Mereka tak mengindahkan “kode etik kejuangan” yang digariskan Nabi Muhammad SAW tentang “perjuangan terbesar di muka bumi ini adalah melawan hawa nafsu”.
Penetrasi nafsu seksual, misalnya dibiarkan menguasai dan menjajah dirinya, yang membuat dirinya kehilangan keberdayaan teologis dan ketajaman rasionalitasnya.
Manusia yang menjadi korban nafsu seksualnya ini tergelincir pada penafian dan pengamputasian moralitas penyelamatan. Mereka demikian bergairah menikmati dan mengkulturkan pesona hedonisme-seksualisme.
Tak Termaafkan
Di antara pengembaraan dan pengumbaran nafsu seksual di luar ikatan norma keagamaan adalah perzinahan. Perilaku amoral ini tergolong sebagai dosa besar yang berimplikasi dan berdampak makro.
Sebagai komparasi, kalau dalam kejahatan pembunuhan, seseorang yang terbukti membunuh (dalam hukum pidana Islam) masih bisa mengharapkan pembebasan (sanksi) hukuman bilamana keluarga atau ahli waris korban memberikan maaf, maka berbeda dengan kejahatan perzinahan (adultery crime), yang sanksi hukumnya tak memperoleh alternatif untuk dimaafkan.
Seriusnya persoalan zinah itu dapat dicermati dalam firman Allah SWT, “janganlah kamu hampiri zinah, sesungguhnya zinah itu sangat keji dan jalan yang sangat sesat” (Surat Al-Isra, ayat 32).
Firman Allah itu menggariskan mengenai hukum interaksi kausalitas antara perzinahan dengan tindak kekejian (kejahatan) lain. Begitu seseorang terperangkap dalam perzinahan, maka kemungkinan melakukan kejahatan lain sangat terbuka, artinya perzinahan menjadi embrio dan faktor kriminogen yang mendorong terjadinya modus kejahatan lainnya.
Begitu modus kejahatan lain sudah dimarakkan, maka eksistensi, dan prospek kehidupan sosial-kultural masyarakat menjadi luntur dan terancam kehancuran. Masyarakat akan sarat dengan problem kezaliman dan pengingkaran moral (moral disobidience).
Dipertegas pula dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “umatku masih dalam keadaan baik, selama belum tersebar di kalangan mereka anak zinah. Bila anak zinah sudah tersebar di kalangan mereka, maka Allah secepatnya akan meratakan azab”.
Hadis itu mengingatkan mengenai jatuhnya harkat kemanusiaan yang disebabkan oleh perzinahan. Manusia yang tergelincir pada perzinahan merupakan sosok individu yang gampang menyiapkan “kuburan” untuk dirinya maupun orang lain (janin) yang sebenarnya tidak berdosa.
Aborsi merupakan salah satu akibat negatif dari perzinahan yang membuahkan kehamilan yang tak dikehendaki (unwanted pregnancy). Dengan kehamilan yang tak “dikehendaki” ini, akhirnya jalan kekejian bermodus menggugurkan calon bayi ditempuhnya untuk menutup aib dan menjaga prestis.
Kasus aborsi yang diramaikan kembali gara-gara ditemukannya sejumlah (11) orok bayi di kolong jembatan di Jakarta belum lama ini (Surabaya Post, 25/11) sebenarnya adalah mengaktualkan kembali persoalan perzinahan.
Terasa parsial kalau hanya mempersoalkan aborsinya, sementara perzinahannya tak diaktualkan, mengingat kasus aborsi yang kerap terjadi di tengah masyarakat ini, termasuk yang tak menggunakan jasa dokter dan dukun adalah lebih disebabkan (didahului) praktik perzinahan seperti seks bebas.
Aborsi
Seks bebas (perzinahan) atau pola easy sex, terutama dalam komunitas kaum muda merupakan akar masalah yang menuntut perhatian serius baik dari pemerintah dan sekolah maupun orangtua. Berbagai hasil penelitian ahli menunjukkan tentang komplikasinya pola seks bebas di kalangan kaum muda itu.
Pada 1989, seorang pengamat masalah sosial dan seksual, James Ruston mengatakan, seks bebas itu lebih berbahaya (hebat) akibatnya dibandingkan ancaman tenaga nuklir.
Terlepas dari benar tidaknya statemen Ruston terhadap dampak seks bebas itu, tapi penulis yakin kita sependapat, praktik seks bebas merupakan “konsumsi vulgar” dan amoral yang berdampak destruktif bagi kelangsungan hidup manusia, baik kini maupun masa-masa mendatang.
Hasil penelitian mahasiswa Universitas Indonesia 1995 misalnya, menyebutkan, 40% remaja berusia 15 tahun ke bawah sudah pernah melakukan hubungan seks pranikah.
Penelitian dengan skala lebih luas lagi (di lima kota Propinsi Jawa Timur, Surabaya, Madiun, Malang, Jember, dan Kediri) dilakukan Nyoman Naya Sujana bersama Bappenkar (1992) juga menunjukkan, penyimpangan seksual sedang menjadi gaya hidup sebagian remaja kota. Dari 446 remaja yang diwawancarai, sebanyak 42% mengaku pernah berhubungan seksual sebelum menikah.
Sosiolog Hotman M. Siahaan (1989) pun menunjukkan hasil penelitian terbatasnya di Surabaya, di kalangan remaja telah terjadi pergeseran seksual. Dari 46 remaja (usia 15-20 tahun) yang diwawancarainya, 32,6% mengaku pernah melakukan seksual pranikah, terutama remaja putra (57,1%) dan untuk remaja putri 12%. Hubungan seksual pranikah itu umumnya dilakukan dengan teman dekat sendiri atau pacar (46,7%), dan dengan pelacur (39,9%).
Dari hubungan seks pranikah itu eksesnya adalah kehamilan dan aborsi. Hasil pelacakan dari klinik dan dokter praktik oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab. Magelang diestimasikan ada 1.456 kasus kehamilan remaja dalam setahun di Magelang (Bernas, 27 Agustus 1993).
Seorang psikolog di Jakarta juga menyampaikan data yang mencengangkan tatkala meneliti 405 orang yang belum menikah yang ingin menggugurkan kandungannya. Dari jumlah itu 12%-nya adalah siswi SLTA, 47%-nya siswi SLTP, dan 37% sudah kuliah (Surabaya Post, 13/11/1994).
Data-data yang ditunjukkan kalangan peneliti yang memaparkan tentang korelasi antara seks bebas (perzinahan) dengan aborsi di kalangan kaum muda (remaja) itu merupakan “gugatan” terhadap realitas pendidikan dan penyejarahan moral yang gagal dilakukan elite edukasi, pemerintah, dan khususnya orangtua.
Dengan tuntutan untuk menyegarkan, membugarkan, dan “mencerdaskan” komitmen moral, jika hal ini dapat dilaksanakan, maka kita masih dapat berharap anak muda itu dapat dibentengi dan diselamatkan sejak dini dari penetrasi yang mendestruksinya.

Penulis adalah alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya, pengamat masalah sosial-keislaman.

Seks Remaja Makin Mengkhawatirkan

Sungguh mengkhawatirkan data yang didapat dari para peneliti di Boston, Masswachusetss, A.S., belum lama ini. Data tersebut menyebutkan bahwa 47% pelajar SMP kelas III di Amrik telah melakukan hubungan seks bebas. Dari jumlah tersebut hanya 23% yang tidak berpacaran tapi melakukan hubungan seks.

Kalau siswa SMPnya aja udah kayak gitu, bagaimana siswa SMUnya? Pasti……? Ya, dugaan kamu tidak meleset. Dari data yang didapat dari PBB mengatakan bahwa lebih dari 80% siswa SMU di Cina pernah melakukan hubungan seks bebas. Setidaknya mereka mengaku pernah melakukan sekali, ketika disurvei PBB.

Celakanya lagi, mereka menganggap bahwa hal itu adalah hal yang biasa. Malah ada yang menyetujui hubungan itu. Setidaknya menurut hasil survei PBB ada 30,4% yang setuju dengan seks bebas dan 47,8% yang berfikir hal itu bisa dimaklumi. Nah, lu’ !

Apa sih, yang menyebabkan mereka sampai melakukan seks bebas? Ternyata alasannya merupakan hal yang sepele. Alasan yang mendorong para remaja Amerika melakukan hubungan seks adalah karena mereka mengira teman-teman mereka yang sebaya sering melakukan hubungan seks. Apalagi bagi mereka yang sudah berpacaran, kecenderungan untuk melakukan hubungan seks semakin besar.

Alasan itu ditemukan Drs. Rick S. Zimmerman dan Katharine Attwood dari University of Kentucky Louisville. Mereka juga menemukan bahwa remaja yang mengkonsumsi alkohol juga memiliki kecenderungan melakukan hubungan seks pada tahun-tahun awal di sekolah menengah. Temuan ini didasarkan pada studi yang dilakukan selama 4 tahun dan melibatkan 950 siswa III SMP. Dan setiap tahunnya para siswa tersebut diminta menjawab kuesioner hingga mereka duduk di kelas III SMU.

“Jadi harus ada yang mengatakan pada remaja bahwa meskipun mereka mengira semua rekan sebayanya telah melakukan hubungan seks, kenyataannya tidaklah seperti itu. Hanya 25 hingga 30 persen dari rekan sebayanya melakukan hubungan seks saat kelas III SMP,” jelas Attwood.

Tapi apakah hanya dengan tiga alasan itukah para remaja melakukan hubungan seks? Tentu tidak! Prilaku seks bebas pada remaja juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Bagaimana tidak terpengaruh, kalau 68% program televisi di AS periode 1999-2000 berbau seks. Artinya dua dari program TV di AS mengandung unsur seks. Yaitu menayangkan perilaku genit dan sensual, ciuman, raba-rabaan, pembicaraan tentang seks bahkan sampai pada hubungan seksual.

Belum lagi dengan situs-situs porno yang dapat diakses di internet. Survei yang dilakukan di Eropa akhir-akhir ini menyebutkan bahwa tiga dari empat remaja pria dipastikan mengakses situs porno. Padahal hampir semua responden menyetujui bahwa ponrnografi sangat berhaya bagi para remaja, tetapi beberapa dari mereka mengaku masih suka melihat gambar-gambar porno. Berdasarkan temuan survei itu, mereka mengenal seks dari keluarganya, temannya, surat kabar, journal medis, film dan media lainnya.

Masih menurut survei tersebut, juga didapat kenyataan bahwa para siswa yang menunda seks sampai mereka sampai mereka dewasa cenderung mendapat nilai Indeks Prestasi Kumulatif yang lebih tinggi. Melihat kenyataan-kenyataan demikian, bagaimanakah dengan kondisi remaja di negara kita? (hrb).

 

 

Bagaimana Orang dunia mengungkapkan cinta

Afrika – Ek het jou lief
Arab – Ana behibak (to male)
Arab – Ana behibek (to female)
Belanda – Ik hou van jou
Cantonese Chinese – Ngo oiy ney a
Ethiopia – Afgreki’
Filipina – Mahal kita
French – Je t’aime, Je t’adore
Georgia – Mikvarhar
German – Ich liebe dich
Hawai- Aloha wau ia oi
Hungaria – Szeretlek
India – Hum Tumhe Pyar Karte hae
Irlandia – Taim i’ ngra leat
Italian – Ti amo
Japanese – Aishiteru
Kannada – Naanu ninna preetisuttene
Korean – Sarang Heyo
Latin – Te amo

Mandarin Chinese – Wo ai ni
Moroco – Ana moajaba bik
Norwegia – Jeg Elsker Deg
Persia – Doo-set daaram
Portuguese – Eu te amo
Romania – Te ubesk
Russia – Ya tebya liubliu
Serbia – Volim te
Spanyol – Te quiero / Te amo
Swedia – Jag alskar dig
Swiss-German – Ich lieb Di
Thailand – Chan rak khun (to male)
Thailand – Phom rak khun (to female)
Turki – Seni Seviyorum
Ukraina – Ya tebe kahayu
Vietnam – Anh ye^u em (to female)
Vietnam – Em ye^u anh (to male)
Yahudi- Ani ohev otah (to female)
Yahudi – Ani ohev et otha (to male)

 

 

SEGITIGA • MARET/III/2001 

 

Majalah Suara Hidayatullah : Juni 2001

Hukum Indonesia Menghalalkan Zina

 

Di negeri ini, rupanya para pezina lebih dihormati daripada penegak syari’ah

“Indonesia bukan negara agama sehingga yang berlaku di Indonesia bukan hukum agama, melainkan hukum nasional. Maka siapa saja yang melanggar hukum nasional harus dikenai sanksi.” Begitu kata Kapolri Jenderal Surojo Bimantoro saat dimintai komentarnya seputar penangkapan Panglima Laskar Jihad Ahlussunah Wal Jamaah, Ja’far Umar Thalib.

Ja’far ditangkap dengan dua tuduhan: menyebarluaskan kebencian terhadap agama tertentu di Ambon, dan melakukan penganiayaan terencana terhadap anak buahnya yang menyebabkan kehilangan nyawa. Bukti yang diajukan polisi, sehalaman berita dari majalah mingguan Gatra.

Ja’far ditangkap sebulan lebih sesudah rajam yang diminta sendiri oleh Abdullah ?salah satu anggota yang namanya disamarkandilakukan (27/3). Abdullah mengaku telah berzina dan meminta agar dirinya dihukum dengan syari’ah Islam. Karena ia seorang yang sudah beristri, maka hukum atasnya adalah rajam. Sampai saat terakhir, pimpinan Abdullah masih terus memintanya mencabut pengakuan. Abdullah menolak. Rajam pun dilakukan oleh sekitar 100 orang anggota Laskar Jihad dan warga desa Ahuru, Ambon. Ja’far kini menjadi tahanan rumah.

Hukum rajam yang ditegakkan atas Abdullah ?yang baru-baru ini mendapatkan anugerah Syari’ah Award dari Silaturrahmi Media-media Massa Islam di Jakarta bagaikan kesejukan yang menyirami gersangnya bumi Indonesia, yang sedang dilanda kemarau oleh kebudayaan zina yang merajalela.

Budaya Zina: Dari Pelajar sampai Pejabat

Konon, dasar negara republik ini dijiwai oleh nilai-nilai ketuhanan. Tapi hukum positifnya menantang dasar negara dengan jelas-jelas menghalalkan zina. Definisi zina menurut pasal 284 KUHP, “Barangsiapa melakukan persetubuhan dengan laki-laki atau perempuan yang bukan suami atau istrinya, maka diancam dengan sanksi pidana.” Pakar Sosiologi Hukum dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Achmad Ali menafsirkan, “Jadi kalau seorang bujangan bersetubuh dengan gadis, itu dianggap bukan persoalan hukum, tidak apa-apa.”

Lebih lanjut Dekan Fakultas Hukum Unhas ini menambahkan, hukum positif yang tidak Islami inilah yang justru berlaku di Indonesia. “Semestinya, UU yang berlaku di Indonesia harus benar-benar sesuai dengan rasa keadilan warga masyarakat yang mayoritas Muslim. Pasal 284 KUHP harus diubah,” tukasnya.

Ringannya ancaman hukuman dan sempitnya definisi tentang zina dalam aturan KUHP membuat orang leluasa melakukannya. Akibatnya, perzinaan makin merajalela. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai orang tua. Budaya zina sudah begitu akrab dengan pelajar, mahasiswa, sampai kaum elite. “Aturan dalam KUHP tak membuat orang takut untuk berbuat zina,” ujar Topo.

Sudah begitu banyak penelitian yang menunjukkan betapa dahsyat perilaku zina di tengah masyarakat yang konon religius ini. Salah satu penelitan dilakukan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ‘Plan’ dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), yaitu tentang perilaku seks remaja di Kota Bogor (Jabar), awal tahun lalu. Hasilnya luar biasa. Dari 400-an responden, 98,6% remaja berusia 10-18 tahun sudah mengenal pacaran, di antaranya 50,7% melakukan cumbuan ringan, 25% melakukan cumbuan berat, 6,5% telah melakukan hubungan seks. Sebanyak 28 responden (lelaki dan perempuan) telah melakukan hubungan seks bebas, 6 orang dengan penjaja seks, 5 orang dengan teman, 17 orang dengan pacar. Tak cuma hubungan seks wajar, tapi juga abnormal. Buktinya, 6 di antara mereka pernah melakukan seks anal dan oral. Yang lebih memprihatinkan, perilaku liar ini banyak dilakukan di rumah sendiri.

Akhir bulan lalu, harian Pos Kota menurunkan tulisan berseri tentang Seks Bebas di Kalangan Pelajar. Mau tahu salah satu kisahnya? Tika (15), kelas 1 sebuah SMU di Kranji, Bekasi, mengaku telah hamil 3 bulan akibat hubungan bebasnya dengan pacarnya. Oleh kawan-kawannya, pasangan ini memang dikenal begitu mesra. Di tengah keramaian pun tak malu-malu untuk bermesraan, dengan masih memakai seragam abu-abu. Persis suami-istri. Orang tua merekapun beranggapan demikian, sehingga membiarkan kedua remaja yang masih hijau ini berperilaku apa saja. Termasuk berdua-duaan di kamar. Alhasil, terjadilah peristiwa yang memalukan itu. Tika hamil.

Benar yang dikatakan seksolog Wimpie Pangkahila. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini menyatakan, sekarang seks bebas sudah dianggap sebagai hal biasa. Bahkan dianggap identik dengan gaya hidup modern. “Dulu, hamil di luar nikah merupakan malapetaka. Sekarang, orang kawin dengan perut buncit sudah hal biasa,” ujarnya dalam sebuah seminar di Jakarta akhir bulan lalu.

Tak cuma kalangan pemuda dan remaja. Orang tua yang memegang jabatan penting di tengah publik pun tak malu-malu berzina. Awal tahun lalu kalangan pejabat Kota Kediri dibuat heboh oleh ulah tiga anggota dewan yang memalukan. Widji Sulistyo (33), Syamsu Widodo (41), dan Joko Supriyanto, anggota DPRD dari FPDIP Kodia Kediri (Jatim) melakukan pesta seks di Hotel Malinda, Tulungagung. Ketiganya mangkir dari acara pembekalan anggota dewan. Ketika dipecat, Joko dengan tenang mengatakan, “Kenapa sih saya diincar. Padahal saya yakin anggota dewan lainnya ada yang main perempuan (Gatra, 25/ 3/2000).”

Itu pejabat kelas teri. Yang kakap juga ada, bahkan kini menjadi orang nomor satu di Indonesia. Masih ingat kasus Aryantigate yang menimpa Abdurrahman Wahid? Jelas-jelas Aryanti Boru Sitepu telah mengaku berhubungan intim dengan partnernya itu, dalam keadaan masing-masing sudah berkeluarga. Namun orang-orang di sekitarnya terus berupaya melindungi Gus Dur. “Kalau cuma merangkul tidak apa-apa,” kata KH Cholil Bisri, tokoh PKB.

Belum lagi bila bicara kehidupan bebas kalangan selebriti. Krisdayanti, artis yang banyak diidolakan kawula muda, mengaku biasa menonton film porno ketika suaminya tidak ada di rumah. “Habis, libido gue tinggi banget, jadi harus dilampiaskan,” akunya seperti dikutip sebuah media ibukota.

Masyarakat Dikepung

Dalam sebuah seminar tentang seks di Jakarta, Arif Adimoelja dari Universitas DR Soetomo Surabaya menuding alat kontrasepsi sebagai biang keladi meningkatnya seks bebas. Di Indonesia, hal itu mulai menggejala sejak 1980-an.

Pendapat itu rasanya tidak berlebihan. Lihat saja iklan di televisi yang secara agak malu-malu menganjurkan seks bebas. “Untuk menghindari penularan virus HIV/AIDS, gunakan kondom!” Pertanyaannya, itu ditujukan kepada siapa? Kalau untuk suami-istri, kenapa mesti pakai kondom? Rasanya bukan. Yang mungkin adalah ditujukan kepada pasangan yang belum terikat perkawinan dan yang terbiasa melakukan hubungan seks bebas. Jadi televisi berusaha memberi kenyamanan kepada para pelaku seks bebas.

Sedangkan psikiater kondang Dadang Hawari melihat narkotika dan zat adiktif (NAZA) sebagai ‘provokatornya’. Zat haram ini membuat sistem syaraf pengendali lepas kontrol atau remnya blong. “Lepas kontrol itu menimbulkan dorongan yang kuat untuk berkelahi, mencuri, dan agresif berbuat seks bebas,” ujar Dadang.

Faktor lainnya banyak. Psikiater yang juga aktif ceramah di masjid dan pengajian ini menunjuk maraknya media massa dan tempat hiburan yang mengundang nafsu syahwat. Lihat saja acara media elektronik yang biasa tersaji di depan keluarga kita. Hampir semuanya menayangkan perilaku zina, misalnya adegan ciuman sampai persetubuhan, sinetron perselingkuhan, iklan di ‘tempat tidur’, telenovela dari Amerika Latin yang isinya seks bebas, sampai komik dan film kartun Crayon Sin-Chan yang ‘membimbing’ anak-anak untuk bertingkah laku cabul.

Salah satu contoh yang kerap mengkampanyekan budaya zina adalah RCTI. Televisi sawasta terbesar di negeri ini tiap malam Minggu menggelar acara Angin Malam yang mengupas masalah seks secara vulgar, lengkap dengan penari yang berlenggak-lenggok erotis. Acara yang dipandu Dewi Hughes ini pernah menghadirkan Budiman Sudjatmiko (Ketua PRD) dan Arswendo Atmowiloto (mantan Pemimpin Redaksi Tabloid Monitor). Temanya lumayan serem, yaitu apa yang dilakukan narapidana di sel guna menyalurkan hasrat seksualnya. Dengan enteng Arswendo mantan narapidana akibat kasus pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw menjawab, “Kalau saya ya lakukan onani saja.”

Radio tak ketinggalan. Elvictor FM, stasiun radio ternama di Surabaya, saban hari pukul 22.00 menyuguhkan acara obrolan bersama seorang waria. Puluhan kaum lelaki antri menelepon, ngobrol dengan Markonah nama waria itu, tentang apalagi kalau bukan masalah seks. Banyak lagi stasiun radio yang sengaja menggelar acara penggugah syahwat, dengan penyiar genit dan lagu-lagu dangdut yang terus mengajak pembaca untuk ‘bergoyang’.

Bagaimana pula dengan media cetak? Semua orang sudah tahu. Kini muncul puluhan majalah, koran, dan tabloid cabul yang begitu mudah dijumpai di pinggir-pinggir jalan. Sebut saja Popular, Kosmopolitan, Liberty, Amor, Top, Pop, Neo, Map, Mona, atau Tragis. Ada pula yang namanya mengerikan, seperti Hot, Wow, Lipstick, Desah, Asmara, De Suga, Kiss, Jeritan Hati, dan banyak lagi. Tulisannya berputar-putar tentang seks, gambar-gambarnya mengumbar aurat (kebanyakan diambil begitu saja dari situs porno di internet).

Judul-judul tulisannya cenderung menjijikkan. Misalnya majalah Top edisi 53 Th. III, Juni 2001, menulis tentang ‘Artis-artis Perkuat Organ Seks Lewat Salsa, Tragedi Lukisan Telanjang Tante Ris, dan Seks Plesie Kota Bengawan. Atau tabloid Kiss edisi 11/TH.1/2001 yang menurunkan tulisan ‘Suamiku Merasa Puas Bila Menyetubuhiku Dengan Kaki Terikat’ dan ‘Affairku dengan Seorang Jaksa Membuahkan Janin di Perutku’.

Kini orang juga makin gila mengekspresikan seks bebas. Tingkahnya aneh-aneh. Menurut Arif Adimoelja, seks bebas saat ini tak sekadar dilakukan saat pranikah, tapi juga pascanikah. Ada yang melakukan perkawinan terbuka suami istri sepakat bebas melakukan hubungan seks dengan orang lain, swinging (mengikat hubungan dengan orang lain), atau grup (bertukar pasangan dalam kelompok tertentu).

Kerap pula kita jumpai kumpulan anak-anak remaja di rental dan tempat penjualan video compact disk (VCD). Yang menyedihkan, VCD pornolah yang banyak diminati kalangan muda dan remaja. “Yang ‘begituan’ banyak diincar anak-anak muda. Kalau anak kecil mungkin belum tahu, dan kalau orang tua buat apa?” ujar Ipong, seorang pedagang VCD di kawasan Cawang (Jakarta).

Teknologi internet juga banyak dimanfaatkan untuk mengakses kemaksiatan. “Kalau anak-anak remaja ke sini, pasti yang ‘begituan’ yang dilihat,” ujar Ida, pengelola warung internet (warnet) di kawasan Bekasi (Jawa Barat).

“Kalau orang setiap hari melihat dan membaca hal-hal yang porno, maka keimanan akan terkikis. Kalau sudah begitu, maka akan lepas kontrol dan terjadilah perzinaan,” kata Dadang Hawari. Yang membuat Dadang heran, pemerintah sepertinya tidak berusaha memberantas sarana dan prasarana yang mendorong orang untuk berbuat zina. Justru membiarkan, membekingi, bahkan memungut pajaknya. “Di masyarakat kita sekarang, anak masih imut-imut mabok, nyabu, dan berzina sudah biasa. Dan itu tidak ditindak,” katanya lirih.

Masuk akal bila kasus HIV/AIDS di Indonesia semakin dahsyat. RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta saat ini didatangi 4-10 penderita HIV/AIDS tiap minggunya. Data bulanan Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan menyebutkan, selama April 2001 terjadi penambahan 2 kasus HIV dan 5 kasus AIDS. Itu yang diketahui. Sementara para ahli sering menyatakan bahwa data tentang HIV/AIDS ini bagaikan gunung es, yang tampak di permukaan sedikit tapi yang terpendam sangat banyak.

Akibat budaya zina pula aborsi menjadi kebiasaan remaja-remaja putri. Baru-baru ini harian Kompas mengutip sebuah penelitian tentang aborsi. Hasilnya, terjadi 2,5 juta aborsi per tahun dan 1,5 juta di antaranya dilakukan oleh kalangan remaja. Manakala aborsi gagal, maka muncullah bayi-bayi tak berdosa yang tak tahu harus memanggil ‘ayah’ kepada siapa. Kira-kira dalam waktu 20 tahun bayi-bayi itu akan menjelma jadi manusia yang seperti apa ya?

Polemik rajam

Dengan data di atas, akankah pelaku zina dibiarkan berkeliaran? Dan, masih perlukah menerapkan KUHP yang telah terbukti loyo (dan berpotensi mengundang kehancuran masyarakat) itu? Laskar Jihad, Ja’far Umar Thalib, dan almarhum Abdullah sebenarnya sudah mampu memberi jawaban riil: pelaku zina harus dihukum dengan tegas, dan hukum yang pas adalah syari’ah Islam.

Namun yang perpendapat senada dengan Bimantoro tidak cuma satu. Sebut saja nama-nama terkenal seperti Rektor IAIN Jakarta Azyumardi Azra, dosen Universitas Paramadina Luthfie Assyaukanie, Ketua PB NU Hasyim Muzadi, kolumnis terkenal Goenawan Mohamad, dan Rektor Universitas Paramadina Nurcholish Madjid.

Dalam sebuah tulisan di Tempo, Azyumardi menyalahkan Laskar Jihad yang tidak taat kepada hukum positif dan waliyul amri (pemimpin tertinggi) di negeri ini. Rektor IAIN Jakarta ini juga mempertanyakan proses peradilan yang dilakukan Laskar Jihad. “Tidak jelas betul proses dan prosedur yang ditempuh para pemimpin Laskar Jihad sehingga sampai pada keputusan menetapkan hukum rajam,” tulisnya.

Goenawan Mohamad lain lagi pendapatnya. Dalam rubrik ‘Catatan Pinggir’ majalah yang sama, secara implisit Goenawan menilai rajam sebagai hal yang sangat biadab. “Biadab? Sungguh, saya tak tahu apa arti ‘biadab’ di zaman ini. Tapi saya lebih tak tahu kenapa untuk membunuh seorang pendosa, cara seperti itu yang dipilih,” begitu katanya.

Sedangkan Luthfie Assyaukanie menilai penerapan syari’ah Islam di Ambon tidak memiliki dasar konstitusional sama sekali. Dosen Universitas Paramadina Mulya ini juga berpendapat bahwa penerapan syari’ah Islam tidak bisa dilakukan secara harfiah karena sebagian besar praktik hukum di zaman Nabi Muhammad dipengaruhi hukum yang berlaku di Jazirah Arab waktu itu. “Rajam itu tradisi masyarakat Timur Tengah. Jadi itu bukan tradisi murni Islam,” katanya. Karena itu, hukum-hukum yang diterapkan Muhammad harus dilihat secara kontekstual dan diambil substansinya.

Ahli hukum Topo Santoso memiliki pendapat lain. Apa yang dilakukan Ja’far sebenarnya bisa dimengerti. Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Universitas Indonusa Esa Unggul (Jakarta) ini mengemukakan beberapa alasan. Pertama, masyarakat setempat menghendaki hukum yang berlaku adalah sesuai syari’ah Islam. Husni Putuhena, SH, seorang pengacara Ambon mengatakan kepada Sahid, bahwa pada tanggal 4 Januari 2001, masyarakat Muslim Ambon berikrar untuk melaksanakan syari’ah Islam di bumi Maluku, karena banyak kasus pidana yang tidak terselesaikan oleh hukum positif. “Bahkan tingkat kehamilan di luar nikah di kalangan gadis-gadis Muslimah di Ambon melonjak bersamaan dengan datangnya Batalion-batalion Gabungan TNI,” katanya. Artinya, menurut Topo, ada relevansi sosiologis yakni bisa diterima oleh masyarakat.

Kedua, ada relevansi filosofis karena dipandang memenuhi rasa keadilan masyarakat. “Apa yang terjadi di Ambon sudah memenuhi dua kriteria di mana suatu produk hukum bisa diberlakukan di tengah masyarakat,” ujar penulis buku Menggagas Hukum Pidana Islam ini.

Alasan lain, Topo menilai hukum di sana (Maluku) seakan tidak berdenyut. Banyak sekali pembunuhan, pembantaian, pencurian, namun aparat penegak hukum tak bisa berbuat apa-apa. Semua terlepas dari tangan hukum. Karena itu Ja’far tak bisa disalahkan hanya karena menghukum rajam anak buahnya yang terbukti berzina. “Jadi sebenarnya aparat penegak hukum juga salah karena membiarkan pelanggaran hukum terjadi. Pemerintah juga salah. Kalau mau fair, penegak hukum dan pemerintah juga harus dihukum karena tidak melaksanakan tugasnya.”

Hal itu pula yang dijadikan argumentasi oleh Zainuddin Paru, salah seorang penasihat hukum Ja’far. Menurut Zainuddin, saat itu situasi di Ambon dalam keadaan perang. Hukum positif tidak bisa ditegakkan. Selain itu, keputusan hukuman rajam itu bukan atas kehendak Ja’far pribadi atau Laskar Jihad, tapi kesepakatan masyarakat setempat. Apalagi antara kelompok Muslim dan non-Muslim saat sudah terpisah oleh garis demarkasi secara tegas. “Tokoh-tokoh Muslim Maluku telah mendeklarasikan pelaksanaan syari’ah Islam sehingga sah-sah saja memberlakukan hukum rajam di sana. Jadi kenapa yang ditangkap cuma Ja’far?” ujar Zainuddin yang juga aktivis Pusat Advokasi Hukum dan HAM (PAHAM).

Kalaupun misalnya saat itu pelaku zina dijatuhi hukuman sesuai hukum positif yang berlaku, ahli hukum seperti Topo Santoso justru pesimis. Menurutnya, sangat sedikit orang yang dijatuhi hukuman berdasar KUHP dibanding kenyataan terjadinya perzinaan di tengah masyarakat. Malah jarang yang bisa masuk ke pengadilan. Kalaupun sampai pengadilan, hukumannya sangat tidak sesuai dengan pelanggaran hukum yang terjadi. Ancaman hukumannya cuma 9 bulan.

Sungguh berbeda dengan ancaman hukuman terhadap Ja’far yang tengah berupaya mematuhi aturan agamanya. Ja’far yang dianggap melanggar pasal 340 KUHP melakukan penganiayaan sampai meninggal diancam pidana maksimal seumur hidup atau minimal penjara 15 tahun. Di negeri ini, rupanya pezina lebih dihormati daripada penegak syari’ah.

Make a Comment

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: